“kemaren tuh saya udah punya firasat
ga enak banget. ‘ga biasanya tiba-tiba pengen dengerin radio lalu tiba-tiba ada
orang yang request lagunya Burgerkill. Dalam hati saya bilang dasar orang ‘ga
tau diri. Tau engga sih dia kalo vokalisnya lagi sekarat di rumah sakit.”
Sepenggal kalimat itu meluncur dari mantan kekasihnya Ivan.
Bersama suara yang terisak dan mata yang sembab. Satu hari menjelang Ivan
meninggal. Dan dia bicara ketika jasad Ivan yang terbungkus kafan mulai
diturunkan keliang kubur. Merengkuh takdir, dijemput oleh sebuah kehidupan yang
entah seperti apa. Diiringi tatapan berkaca-kaca dan isak tertahan beberapa
teman. Bersama doa-doa pengantar hidup selamat diakhirat kelak. Hari itu Jumat
tanggal 28 Juli 2006 tepat pukul sembilan pagi semua yang menghadiri pemakaman
punya perasaan dan keresahan tersendiri. Tentang dirimu.
Setelah terserang insomnia akut selama beberapa hari, jam
enam pagi aku paksakan untuk segera ke rumah sakit. Setelah kemarin sore aku
menerima kabar tentang kondisi terakhirmu. Beberapa buah apel kubawa sebagai
bekal sarapan. Begitu sampai kutemui beberapa orang yang selalu setia menjaga
Ivan. Kekasih Ivan dan adik-adiknya. Mengajak sarapan apel dan kopi panas.
Beberapa batang rokok. Pagi sangat cerah hari itu. Masih tertawa dan bercerita
tentang beberapa memori kami bersama Ivan. Hingga tiba-tiba kami dipanggil
perawat untuk segera menghadap dokter.
“Perlu saya jelaskan kondisi
terakhir si Ivan. Kondisi otaknya sudah lumpuh alias nol persen. Semua sensor
dan refleknya otomatis mati. Dia secara medis masih dinyatakan hidup karena
fungsi jantungnya masih ada. Itu juga karena dibantu oleh alat. Saya punya dua
opsi dengan hasil yang sama. Pertama adalah semua alat bantu kehidupan si Ivan
dicabut dan kemungkinan bertahan Ivan hanya dalam hitungan beberapa jam saja.
Opsi kedua adalah fungsi alat bantu tetap diteruskan dan Ivan akan bertahan
selama beberapa hari.”
Kami semua diam tercekat. Waktu terasa berhenti membeku.
Pilihan yang sama sekali bukan pilihan. Padahal baru saja dalam hitungan menit
saya masuk ruang rawat Ivan. Memegang tangannya yang masih hangat. Berbisik
ditelinga kirinya bahwa kamu bisa bertahan dan bisa melanjutkan semua cita-cita
yang sudah disusun. Diantara balutan infus dan alat bantu kehidupan lainnya.
Yang rapat mengepung posisi ranjang dimana selama dua hari ini kamu terbaring.
Koma tanpa pernah sadar sama sekali. Hidup yang bergantung pada mesin penyuplai
kehidupan sementara. Ingatanku bergerak cepat mundur kebelakang dengan cepat.
Seperti rangkaian jetcoaster dengan muatan setumpuk kenangan. Ingatan yang
terasa sangat dekat sekali. Ingatan limabelas tahun yang lalu. Dimana bahwa
sedari kecil kita tumbuh dan membangun mimpi bersama.
Pribadi yang tertutup dan tidak banyak bicara. Kecuali saya
mampu membuka topik bicara yang menurutmu menyenangkan untuk dibahas. Salah satunya
adalah buku. Kamu adalah kutu buku. Mempunyai ketertarikan yang kuat terhadap
buku terutama yang bertemakan humanisme dan sastra postmodernisme. Walau kita
jarang bertemu karena kesibukan dengan band masing-masing namun sekalinya
ketemu kita pasti terlibat diskusi intens tentang berbagai buku yang baru saja
kita baca. Saya kagum pada daya tangkap dan analisamu terhadap persoalan yang
muncul dalam diskusi kita. Terkadang kamu juga bicara masalah sudut pandang
dalam proses pembuatan lirik dan interpretasinya. Walau bagi kebanyakan orang
lirik yang dibuat olehmu tidaklah terlalu menyenangkan untuk dijadikan “soundtrack
of life”. Lirik yang kelam, depresif dan cenderung menghujat diri sendiri.
Bahwa semua masalah yang terjadi pada dunia dan lingkungan
kamu jadikan sebagai masalah personal. Masalah yang dipersempit lalu bercermin
pada dirimu sendiri. Tidak mencoba menyalahkan siapapun. Dan itu satu-satunya
amunisimu dalam proses pembuatan lirik-lirik di Burgerkill. Walaupun saya
selalu mengingatkanmu bahwa hal itu sangat riskan dan bukan cara pelepasan
emosi yang sehat. Saya pernah masuk dalam fase seperti itu dan beberapa kali
saya nyaris mati. Apalagi jika harus di stimulan oleh alkohol, ganja dan
obat-obat keras. Tapi itulah diri kamu. Yang bagaimanapun sudah mampu membuat
orang terinspirasi dan melakukan sesuatu terhadap hidupnya. Tergantung
interpretasi mereka terhadap lirik yang kamu buat.
Kita pernah sama-sama terdampar dijalanan. Mencoba keluar
dari realitas yang dirasa makin tidak mampu mewakili segala kehendak kita.
Masalah dengan sekolah, lingkungan dan keluarga. Menciptakan dunia kita
sendiri. Satu hal yang membuatku selalu kagum padamu, bahwa ternyata kau sama
sekali tidak mau merepotkan orang lain. Walau ternyata keputusan yang kau ambil
itu ternyata bisa merepotkan semua orang juga. Lebih tepatnya membuat panik
kita semua. Karena sebenarnya kami benar-benar peduli padamu. Pernah satu waktu
ketika anak-anak terlibat pertikaian dengan segerombolan preman Cicadas dan
ternyata justru kamu yang tidak tahu apa-apa harus jadi korban. Diculik dan
disekap setelah sebelumnya sepotong batu bata mendarat telak dan remuk dikepala
kamu. Dan kamu ternyata tenang saja. Walaupun sebagian muka kamu biru lebam.
Maafkan kami bukan maksud kami untuk tidak menolongmu. Kamu
hanya kebetulan saja berada di tempat dan waktu yang salah. Setelah melewati
aksi kontra intelejen ala preman dan lobi-lobi di tingkatan preman yang lebih
tinggi akhirnya kamu berhasil dibebaskan. Sekali lagi maaf dari kami. Kami
bangga bahwa ternyata kau begitu tenang dan berani. Dan kamu tidak mencoba
menyalahkan siapa pun.
Bahwa dulu ketika kita remaja pernah mempunyai mimpi dan
harapan yang sama dengan kawan yang lain. Impian yang selalu indah dan penuh
cita-cita mulia. Cita-cita tentang membangun sebuah perusahaan rekaman
indielabel. Gedung pencakar langit lengkap dengan landasan helikopter dan semua
teman kita bekerja disana. Dalam ruangan teduh ber-ac dan istri kita menjadi
sekretarisnya. Bahkan denah gambar hasil gambaranmu masih ada melekat di pintu
kamarku. Berebut tempat bersama semua curhatmu ketika kau ditolak cinta pada
masa sma dulu. Yah kau pernah ditolak cinta gara-gara secara ekonomi kamu
dinilai tidak mapan. Padahal kamu butuh keberanian yang amat sangat untuk bisa
menyatakan cinta pada wanita teman sma mu. Setelah dibantu oleh beberapa butir
obat keras. Biar pede, begitu alasanmu. Perempuan manis berambut ikal mirip
Igor Cavalera drummer Sepultura. Kau kesal lalu menulis “perangi buta huruf
dan cewek matre”. Ada juga tulisanmu “kejelekan adalah kegantengan yang
tertunda”. Untuk yang satu ini saya sama sekali tidak mengerti maksudnya.
Tapi hingga kini saya masih selalu tersenyum ketika bangun pagi dan melihat
tulisan itu. Padahal untuk ukuranku kamu cukup ganteng. Tidak, tidak ganteng
tapi eksotik!...
Lalu kita mencoba berkhayal tentang siapa diantara kita yang
akan menikah pertama kali. Menimang bayi yang sudah memakai kaos band metal
favorit. Mengajak keluarga kita nonton konser metal bareng-bareng. Tidak pernah
kita membayangkan satu diantara kita yang akan pergi meninggalkan duka. Kita
lakukan itu sambil tiduran diatas genteng rumahku. Menatap langit gelap dan
jutaan bintang bertebar bersinar. Kau menilai seperti itulah hidup ini. Gugusan
bintang yang setiap malam mencoba bersinar terang agar dapat memberikan harapan
bagi yang melihatnya. Lalu di pagi buta kita berteriak lantang
sekeras-kerasnya, make a wish pada setiap bintang yang jatuh meluncur.
Entah kepada siapa.
Dari cerita-cerita teman main bandmu aku dapat menangkap kesan
bahwa kau memang sangat menantikan semua ini terjadi. Hari-hari terakhir
hidupmu dimana kau sama sekali tidak mau mengecewakan dan merepotkan mereka.
Bahwa kau sebenarnya tidak mau menghancurkan segala impian mereka. Ketika rasa
sakit yang selama ini menyerang kepalamu kau biarkan saja. Kau jadikan sakitmu
itu sebagai inspirasi dalam membuat lirik. Menjadi stimulan demi sebuah proses
kreatif yang menghasilkan karya yang jujur. Jujur. Memang seperti itulah
keadaanmu yang sebenarnya. Semua orang boleh kagum padamu ketika kau beraksi
diatas panggung. Terpana oleh pancaran aura kuat seorang rockstar yang sedang
berekspresi diatas panggung. Teriakan lantang menyapa penggemarmu. Bertelanjang
dada dengan hiasan tato disetiap sudut tubuhmu yang ringkih. Lalu kau mulai
menyanyi dengan semangat. Menjerit dan berteriak tentang semua keresahanmu.
Melakukan headbanging nyaris tanpa jeda disetiap lagu yang kau nyanyikan.
Kenapa kamu rela seperti itu van ? padahal aku tahu bahwa
sebenarnya kamu sedang menahan sakit yang tidak dapat tergambarkan kecuali
orang lain ikut merasakannya. Rasa sakit yang selama ini kau tahan agar orang
lain tidak merasa kecewa kepada kamu. Ketika kau berteriak menyapa fans mu,
pada saat yang tepat juga semua saraf dipembuluh otakmu berkontraksi sehingga
untuk beberapa saat otakmu terasa panas dan kesemutan. Lalu akibatnya suplai
oksigen ke otak berhenti sesaat. Aku juga tahu bahwa setiap kali kau
headbangin’ matamu berkunang dan berpendar oleh aneka warna. Dan itu pasti
sangatlah menyakitkan sekali. Tak jarang kau kejang dan pingsan setelah selesai
manggung. Rasa sakit yang selalu menghantuimu selama kurang lebih dua tahun
kebelakang. Dan kamu nikmati semuanya. Kamu masih bisa tersenyum tiap kali kita
berjumpa di backstage untuk sekedar menanyakan kabar dan berbagi rokok. Badan
penuh keringat, sisa nafas yang tersenggal. Namun matamu kosong menatap.
Hari Kamis, tanggal 27 Juli 2006 jam 10 pagi di beranda
parkir Rumah Sakit Santo Yusup keputusan yang berat terpaksa kami ambil.
Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter mengenai segala kemungkinan dan
harapan. Bersama keluarga, kerabat dan teman-teman semua akhirnya memutuskan
Ivan untuk dibawa pulang ke rumahnya di Rancaekek. Melepaskan semua beban
derita dan kesakitan yang selama ini menjadi teman setianya. Memberikan jalan
yang lapang bagi semua depresi dan kegalauan yang selama ini menghantuinya.
Tepat jam tiga sore ambulan sudah disiapkan dipintu keluar. Beberapa teman
berdiri berjejer dengan raut muka yang nyaris sama. Kesedihan. Ketika kereta
dorong yang membawa ragamu lewat perlahan
Dan ternyata kau hanya mampu bertahan beberapa jam saja
dirumah. Beberapa menit menjelang adzan magrib berkumandang kau lepas dari
ragamu. Raga yang selama ini banyak dipuja oleh banyak orang. Menjadi inspirasi
dan panutan. Raga yang selama ini kau pinjam untuk mengekspresikan semua keluh
kesahmu. Bersama doa-doa dan kerelaan yang tulus kami beri padamu sebagai
bekal. Kebebasan yang selama ini kau idamkan akhirnya tercapai sudah. Kebebasan
yang disimbolkan oleh bendera kuning yang tertancap berjajar disepanjang jalan
menuju kerumahmu.. Kebebasan yang selama ini selalu jadi bahan perdebatan seru
diantara kita. Diantara tangisan duka dan perasaan kehilangan yang mendalam
diantara aku dan teman-temanku. Mengutip kata-kata teman saya Ucok Homicide,
“bahwa hidup tak perlu lama, tetapi
ia harus dilewati sepenuh kita mampu”
Dan kau sudah membuktikannya seperti itu. Terima kasih atas darah, keringat dan air mata yang mau kamu bagi bersama. We’re proud to you…Kita akan jumpa lagi di panggung konser yang berbeda. Secepatnya bro…
Oh ya, bulan Desember tahun ini Ivan
berencana untuk menikah. Ugh…
* Dua tahun yang lalu saya dan kawan yang lain
pernah berdiri disini. Bersama-sama mencoba memaknai arti dari kehilangan dirimu.
Dua tahun sudah berlalu. Hari ini saya sendirian terduduk diam didepan nisanmu.
Panggung terakhirmu. Saya hanya diam, mencoba meraba sisa aura yang
mungkin sengaja kamu tinggalkan. Tanpa serpihan kelopak bunga aneka warna.
Tanpa isak tangis dan iringan doa-doa. Lewat kesendirian saya bisa merasakan
kembali arti dari apa yang pernah kita jalani.
Nisanmu yang tampak kusam saya bersihkan. Hanya untuk
sekedar melihat nama aslimu. Ivan Firmansyah. Hingga hari ini saya masih bisa
melihat dan merasakan jejakmu yang masih nampak dimana-mana. Saya tidak
tahu sekarang kamu sedang apa dan ada dimana. Adakah kawan disana?...
Saya tidak tahu harus berdoa pada apa dan siapa. Setiap hari
saya coba meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada. Hingga dengan sepenuh hati,
setiap saat saya bisa memohon padaNya tempat yang paling layak untukmu. Saya
hanya ingin bercerita padamu. Tentang kabar dari duniaku. Tentang betapa kami
semua sangat merindukanmu.
Hufff,…Goddamn!…saya rindu kamu van…
Rancaekek, 28 Juli 2008
from addy gembel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar